PMI JEMBER – Berdasarkan rilis BMKG, musim kemarau di Kabupaten Jember diprediksi bakal berlangsung lebih panjang. Berdasarkan prakiraan terbaru, awal musim hujan di wilayah Jember baru akan dimulai pada dasarian II bulan Desember 2026. Alhasil, krisis air bersih di sejumlah titik kekeringan diperkirakan masih akan meningkat.
Informasi tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Kekeringan dan Distribusi Air Bersih yang dipimpin oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember di Ruang Pusdalops BPBD Jember, Selasa (20/10/2026).
Menanggapi kondisi kemarau yang makin panjang, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Jember terus bergerak aktif menyalurkan bantuan air bersih. Hingga saat ini, PMI Jember mencatat telah mendistribusikan lebih dari 688 ribu liter air bersih untuk masyarakat terdampak yang tersebar di delapan lokasi kekeringan.
Antara lain di Desa Sumberpinang Kecamatan Pakusari, Kelurahan Antirogo Kecamatan Sumbersari, Kelurahan/Kecamatan Patrang, Desa Jubung Kecamatan Sukorambi dan Desa Curahmalang Kecamatan Rambipuji Kabupaten Jember. Melayani sekitar 700 kepala keluarga dengan pekiraan 2.200 jiwa di lima kecamatan.
Bahkan, guna memperkuat cadangan air masyarakat, PMI Jember secara khusus menyuplai empat tandon darurat milik BPBD Jember mulai Senin (19/10/2026). "PMI Kabupaten Jember berkomitmen untuk terus membantu masyarakat yang mengalami krisis air bersih. Hingga saat ini distribusi sudah menembus angka 668 ribu liter di delapan titik, dan penyaluran akan terus kami optimalkan," ujar Kepala Bidang Penanggulangan Bencana (PB) PMI Kabupaten Jember, Narto, yang hadir didampingi Kepala Markas PMI Kabupaten Jember, Imam Muslim Alhariri.
Sementara itu, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Jember, Zughrinada Wahyudi Hidayat (yang akrab disapa Ayub), menjelaskan bahwa BPBD Jember sejauh ini telah menjangkau 12 lokasi kekeringan melalui sinergi lintas sektor. Kolaborasi tersebut melibatkan PMI, PDAM, Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta berbagai instansi terkait.
"Awal musim hujan di Jember diprediksi baru terjadi pada dasarian II bulan Desember 2026. Ini berarti durasi distribusi air bersih ke wilayah kekeringan akan lebih panjang dan kebutuhan pasokan air bersih dipastikan terus meningkat," jelas Ayub. Melihat tantangan pasokan air yang kian besar hingga akhir tahun, BPBD Jember mendorong peran aktif dari sektor swasta dan jaringan kedermawanan masyarakat. Ayub mengimbau berbagai lembaga filantropi di Kabupaten Jember untuk ikut turun tangan bahu-membahu menyalurkan air bersih.
"Kami sangat berharap lembaga-lembaga filantropi seperti Lazismu, YDSF, BSMI, dan lembaga sosial lainnya dapat turut ambil bagian secara aktif membantu distribusi air bersih kepada warga yang membutuhkan," pungkas Ayub. (*)
