DARI PEMBUKAAN DIKLATSAR KSR PMI UNIT UNEJ KE XXXIV, KSR PMI MENJADI RELAWAN MUDA, UJUNG TOMBAK PMI HADAPI BENCANA

DARI PEMBUKAAN DIKLATSAR KSR PMI UNIT UNEJ KE XXXIV, KSR PMI MENJADI RELAWAN MUDA, UJUNG TOMBAK PMI HADAPI BENCANA

PMI JEMBER — Korps Sukarela (KSR) Palang Merah Indonesia (PMI) Unit Universitas Jember (Unej) resmi membuka Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) ke-XXXIV. Bertempat di lantai 5 Gedung CDAST Utara Unej pada Sabtu, 24 Oktober 2026, kegiatan ini menjadi momentum penting dalam melahirkan generasi muda yang tangguh, berkarakter, dan siap menjadi garda terdepan dalam aksi kemanusiaan. 

Acara pembukaan secara resmi dilakukan oleh Kepala Bidang Penanggulangan Bencana PMI Kabupaten Jember, Narto, yang ditandai dengan penyematan tanda peserta kepada perwakilan. Hadir pula dalam kesempatan tersebut Dewan Kehormatan KSR PMI Unit Unej Agus Rijanto serta sejumlah undangan yang lain, termasuk KSR Markas PMI Kabupaten Jember.

Ketua KSR PMI Unit Unej Gaesha Dinda Octanavianto, serta Ketua Panitia Diklatsar Siti Munawaroh yang akrab disapa Waroh selaku ketua panitia, menjelaskan bahwa Diklatsar ini merupakan agenda tahunan yang dirancang khusus untuk membentuk relawan muda PMI yang berkarakter dan disiplin tinggi. Tahun ini, Diklatsar ke-XXXIV diikuti oleh 28 peserta mahasiswa dari berbagai fakultas di lingkungan Unej. Rincian peserta tersebut meliputi FKIP 7 orang, FMIPA 4 orang, Teknologi Pertanian (TP) 3 orang,  Farmasi 3 orang, FKep 2 orang, FISIP 2 orang FEB 2 orang serta Faperta: 2 orang. Kemudian Fakultas Hukum (FH) 1 orang, FIB 1 orang Fakultas Teknik (FT) 1 orang.


Sementara itu, Ketua KSR PMI Unit Unej, Gaesha Dinda Octanavianto, memaparkan bahwa rangkaian Diklatsar ke-34 ini dilaksanakan dalam dua tahap, yakni pembekalan di ruang kelas dan praktik langsung di lapangan. "Peserta akan diberikan berbagai materi esensial, mulai dari kepalangmerahan, manajemen bencana, pertolongan pertama, kesiapsiagaan bencana, hingga kesehatan remaja atau keluarga dan materi pendukung lainnya," terang Gaesha. 

Kabid Penanggulangan Bencana PMI Kabupaten Jember, Narto, menegaskan bahwa KSR PMI merupakan ujung tombak bagi PMI Kabupaten Jember, baik dalam penanggulangan bencana maupun menjalankan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) utama seperti kegiatan donor darah. Narto juga berpesan kepada para mahasiswa agar memanfaatkan masa kuliah sebaik-baiknya untuk menempa diri melalui organisasi. 

"Waktu 4 tahun itu tidak lama, ini kesempatan emas bagi mahasiswa untuk beraktualisasi menjadi pengalaman berorganisasi semaksimal mungkin," ujar Narto. Ia menambahkan, kelak setelah lulus, ruang gerak dan waktu akan lebih terbatas karena disibukkan dengan urusan pekerjaan serta keluarga. 


Oleh karena itu, momentum di KSR PMI harus digunakan untuk belajar berorganisasi sekaligus menimba ilmu keterampilan khusus seperti Etika organisasi, Komunikasi dan advokasi dasar, Pengantar siklus program, Pengantar bencana, dan konflik, Konsep dasar manajemen bencana, manajemen relawan, Pertolongan pertama, Bantuan hidup dasar (BHD), Kesehatan keluarga, hingga PBT (Pasang Bongkar Tenda). Teladan dari Pendiri: Donor Darah sebagai Sodaqoh Jariyah Semangat kemanusiaan dalam pembukaan ini turut diperkuat oleh pesan inspiratif dari Dewan Kehormatan KSR PMI Unit Unej, Agus Rijanto. 

Sebagai salah satu pendiri KSR PMI Unit Unej yang telah mendedikasikan diri selama 39 tahun sebagai pengurus PMI Kabupaten Jember, Agus mengenang masa-masa awal berdirinya unit tersebut pada 12 September 1993, di mana mencari pendonor darah masih sangat sulit. Kini, berkat edukasi yang masif, kesadaran masyarakat untuk melakukan donor darah sudah sangat besar. Di usianya yang menginjak 72 tahun, Agus mengaku masih aktif mendonorkan darahnya secara rutin. "Aksi kemanusiaan donor darah ini menjadi 'sangu' (bekal) kalau sudah berpulang. Ini adalah sodaqoh jariyah yang pahalanya terus mengalir setelah berpulang. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur diberi kesehatan," ungkap Agus, yang memandang Diklatsar ini sebagai wahana regenerasi yang sangat penting agar ilmu kemanusaian dapat terus berguna bagi diri sendiri maupun masyarakat luas,” ujar Agus Rijanto. (*)