Wujudkan SPAB, Materi Kesiapsiagaan Bencana Masuk Kurikulum Sekolah

Wujudkan SPAB, Materi Kesiapsiagaan Bencana Masuk Kurikulum Sekolah

PMI JEMBER – Budaya siaga bencana kini tidak lagi hanya menjadi kegiatan ekstrakurikuler, melainkan bagian dari inti pembelajaran di kelas. Dua sekolah di Kecamatan Gumukmas, yakni SMPN 1 Gumukmas dan SDN 01 Kepanjen, resmi mengintegrasikan materi kesiapsiagaan bencana alam ke dalam berbagai mata pelajaran. Sekolah lain juga melakukan hal yang sama, antara lain SMPN 1 Puger, SMP 3 Puger, SDN 1 Puger Kulon, SDN 1 Puger Wetan dan beberapa sekolah lainnya. Program inovatif ini nantinya mendorong sekolah menjadi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPaB)

Langkah inovatif ini merupakan bagian dari program School Climate Resilience (SCR), hasil kolaborasi antara Japanese Red Cross Society (JRCS) dan PMI Kabupaten Jember untuk membangun ketangguhan sekolah menghadapi ancaman bencana.


Hampir seluruh guru di kedua sekolah tersebut kini mulai menyelipkan edukasi kebencanaan yang relevan dengan bidang studinya. Sebagai contoh, mata pelajaran IPA membahas mekanisme terjadinya gempa, sementara mata pelajaran Bahasa Indonesia digunakan untuk melatih penyampaian informasi darurat yang efektif.

Kepala Sekolah SDN 01 Kepanjen, Irwan Aditya, menyatakan bahwa integrasi ini sangat penting mengingat letak geografis wilayah yang memiliki potensi risiko bencana. "Kami ingin siaga bencana menjadi budaya, bukan sekadar hafalan. Dengan memasukkannya ke mata pelajaran, siswa belajar secara konsisten tanpa merasa terbebani materi tambahan," ungkap Irwan.

Senada dengan hal tersebut, Muhammad Sofyan Tsauri, Waka Kesiswaan sekaligus Pembina PMR SMPN 1 Gumukmas, menekankan bahwa integrasi ini memperkuat mentalitas siswa dalam menghadapi situasi darurat.


"Anak-anak dididik untuk tahu apa yang harus dilakukan, ke mana harus berlari, dan bagaimana cara membantu rekan mereka jika terjadi bencana. Ini adalah investasi jangka panjang untuk keselamatan mereka," jelas Sofyan.

Keunggulan Program SCR di Sekolah antara lain adaptif, dimna materi disesuaikan dengan tingkat usia siswa (SD dan SMP).

 Kemudian kolaboratif dengan melibatkan seluruh ekosistem sekolah, mulai dari guru, siswa, hingga wali murid. Terakhir  berkelanjutan yaitu menjadi bagian dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) guru, sehingga terus diajarkan setiap tahun.

Melalui kemitraan internasional antara JRCS dan PMI ini, diharapkan SMPN 1 Gumukmas dan SDN 01 Kepanjen dapat menjadi role model bagi sekolah-sekolah lain di Jember dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan tanggap bencana.(*)