PMI JEMBER-Sebanyak 28 peserta dari unsur Korps Sukarela (KSR), Tenaga Sukarela (TSR), Pegawai dan Relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT), Selasa (10/02/26) mengikuti pelatihan pertolongan pertama di Markas PMI Jember, jalan Jawa No.57, Sumbersari. Pelatihan diberikan untuk meningkatkan pemahaman mengenai prinsip keselamatan penolong, penilaian awal korban, dan pengambilan keputusan evakuasi atau rujukan medis.
Pada pelatihan yang berlangsung selama tiga hari ini, relawan PMI Jember dituntut kecepatan dan ketepatan pertolongan awal yang menentukan keselamatan dan kelangsungan hidup korban karena jika salah atau terlambat akan berakibat fatal diantaranya pada kasus cidera berat, perdarahan hebat, gangguan pernafasan, syok, dan trauma seperti banyak terjadi pada saat bencana gempa bumi, banjir dan tanah longsor.

“Kami siap mengikuti jalannya latihan tahap demi tahap selama tiga hari di Markas PMI Jember, pelatihan pertolongan pertama ini bermanfaat dan sangat diperlukan jika terjadi bencana di desa kami. Dengan mengikuti pelatihan kita yang ada di desa akan mengetahui langkah apa yang harus dilakukan pertama dan sesuai standart” ujar Supriadi, Perwakilan SIBAT, Desa kepanjen, Kecamatan Gumukmas yang ikut dalam pelatihan.
Materi pelatihan meliputi bantuan hidup dasar, kedaruratan medis, Kedaruratan trauma seperti perdarahan hingga luka bakar. Materi tersebut diberikan pada peserta pelatihan agar ketika terjun lapangan bisa langsung memberikan pertolongan pada korban sebelum dirujuk ke puskesmas atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan tindakan medis.

“Ini merupakan penguatan kapasitas relawan dan masyarakat agar mampu memberikan bantuan awal secara cepat, tepat, dan terkoordinasi sebelum layanan kesehatan rujukan tersedia. kami berharap dengan pelatihan ini, relawan PMI Jember bisa mengerti langkah apa yang harus dilakukan saat dilokasi terjadinya bencana” ujar Ghufron Evyan Efendy, Sekretaris PMI Jember yang membuka acara pelatihan.
Dari program school and community resilience (SCR) diketahui sebagian besar masih memiliki keterbatasan kapasitas dalam memberikan pertolongan pertama yang aman dan sesuai standar. Sementara relawan dan masyarakat belum seluruhnya terlatih dalam prinsip keselamatan penolong, penilaian kondisi korban, penggunaaan alat pertolongan pertama, serta teknik evakuasi darurat dalam kondisi sumber daya terbatas.(*)
