Bupati Abdul Hadi ; Cikal Bakal  Berdirinya PMI Kabupaten Jember

Bupati Abdul Hadi ; Cikal Bakal Berdirinya PMI Kabupaten Jember

PMI JEMBER | Pada tahun 1968 PMI Cabang Jember mempunyai sebidang tanah dengan bangunan asrama diatasnya terletak didepan kantor PUD Jalan Mangunsarkoro Jember, sekalipun kantor dan asrama PMI cabang jember kondisi gedungnya memprihatinkan, rusak berat dan banyak yang bocor, kondisi ini kemudian dilaporkan kepada Bupati Letkol Inf. Abdul Hadi, namun belum dapat solusi, karena keterbatasan anggaran, hingga akhirnya pengurus PMI Cabang Jember memilih bertahan menempati  gedung  yang lama meski kondisinya sangat memprihatinkan.

Era Bupati Abdul Hadi sekaligus Ketua PMI cabang Jember mendorong berdirinya pelayanan transfusi darah di wilayah Jember, karena bagian tugas pemerintah dibidang pelayanan Kesehatan rakyat dan merupakan suatu bentuk pertolongan yang sangat berharga kepada ummat manusia.  Selain itu, secara medis transfusi Darah diyakini sebagai satu satunya sumber darah yang paling aman untuk keperluan transfusi darah adalah darah manusia.

Hal itulah yang menjadi tekat Pengurus PMI Cabang Jember dengan keterbatasannya mendirikan Dinas Transfusi Darah (DTD) PMI Cabang Jember. Yang kemudian diresmikan berdirinya pada tanggal 1 maret 1972. Seiring perjalanan waktu, Pengurus PMI Cabang Jember menunjuk Dr. Soehadi FICS selaku anggota Pengurus PMI saat itu merangkap sebagai Kepala DTD PMI Cabang Jember dibantu dua dokter yakni dr. Purnohadi, S.pB dan dr. Oemi Djauhari, MM serta dukungan pengurus PMI Cabang Jember merintis Dinas Transfusi Darah (DTD) PMI Cabang Jember dibawah pengawasan direktorat V/lembaga pusat Transfusi Darah dan merupakan dinas yang otonom dibawah naungan PMI.  

Karena dinilai berhasil melakukan pengelolaan transfusi darah diwilayah Jember, maka kemudian pengurus Pusat Palang Merah Indonesia menerbitkan surat keputusan nomor : 760/S.KP/PB tanggal 25 September 1978. Dinas Transfusi Darah tersebut merupakan organ tehnis PMI Cabang Jember dan sejak awal dirintis kegiatan operasional donor darah bergabung dengan RSUD. Dr. Soebandi Jember sampai akhir tahun 1983 DTD dipindahkan dari RSU.Dr. Soebandi ke Markas PMI ditegalboto.

Sejak tahun 1970-an hingga pemindahan Dinas Transfusi Darah ke Markas PMI Cabang Jember ditegalboto tahun 1983/1984, DTD menempati Sekretariat Bagian Fisioterapi R.S dr. Soebandi Jember di jalan Supriyadi Nomor 2 Jember telepon 650/605 (alamat lama).

Profil Letkol. Abdul Hadi

Abdul Hadi adalah Bupati Daerah Tingkat II Kabupaten Jember selama dua periode tahun 1969-1979, lahir di Probolinggo pada 2 april (tidak diketahu tahun kelahirannya) beliau berasal dari keluarga agamis dan beliau adalah anak kedua dari lima saudara.

Keluarganya tergolong keluarga yang modernis diera itu, karena memiliki pandangan dan pemikiran yang maju. Pendidikan merupakan hal yang dianggap penting dan anak-anak harus memperolehnya secara lebih baik. Pemikiran dan gaya hidup baru mewarnai kehidupan keluarga ini, sehingga soal kedisiplinan, kebiasaan diskusi  dan tukar pendapat , sifat keterbukaan  berkembang dengan baik.

Masa kecilnya selain diisi dengan kegiatan keagamaan  sejak dari lingkungan  keluarganya, juga mengikuti pendidikan  sekolah di desanya, pergaulan dengan anak –anak sebayanya menunjukkan  bahwa Abdul Hadi memiliki bakat sebagai seorang pemimpin, terbukti selalu diikuti dan dipatuhi  oleh para teman-temannya. Pada masa itu diketahui dan dialaminya secara langsung perjuangan bangsa melawan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Sejak masa kecilnya itu perjuangan bersenjata merupakan pengetahuan dan pengalaman langsung dalam kehidupan kesehariannya, oleh sebab itu kemudian Abdul Hadi tertarik untuk bergabung menjadi anggota TNI karena panggilan jiwanya untuk ikut serta membela Bangsa dan Republik Indonesia.

Karir Militer Abdul Hadi

Setelah berhasil menjadi anggota militer, Abdul Hadi pernah mengemban tugas diberbagai dinas militer dan diberbagai daerah. Ketika bertugas di Makassar Sulawesi Selatan, Abdul Hadi ikut secara aktif membangun lapangan olah raga (Stadion Motoangin) sebagai arena olah raga masyarakat setempat.  Selain itu secara militer terjun langsung dalam menumpas pemberontakan Andisella di Makassar tahun 1958.

Kemudian Abdul Hadi juga pernah bertuga di Batalyon 517 Jombang, saat itu beliau merangkap sebagai ulama (khususnya dikalangan satuannya) dan setiap Jum’at dan bahkan setiap penyelenggaraan sholat Ied, Abdul Hadi memiliki jadwal tetap untuk memberikan khotbah. Melalui kegiatannya itulah nama Abdul Hadi menjadi amat terkenal oleh masyarakat, dimanapun beliau bertugas. Apalagi memang  beliau juga amat dekat dengan masyarakat, tidak segan-segan untuk mengunjungi dan berdialog dengan rakyat disela-sela tugasnya.

Abdul Hadi sering melaksanakan tugas di daerah-daerah, bahkan diluar Jawa, maka Abdul Hadi sering meninggalkan keluarganya. Pada saat demikian itu, komunikasi dengan keluarganya agak terputus, sebab komunikasi belum lancer seperti sekarang. Namun demikian tidak menimbulkan persoalan dalam keluarganya, sebab keluarga Abdul Hadi telah amat harmonis sejak awal. Bahkan sebagian anaknya lahir ketika beliau sedang berada di medan tugas luar daerah. Bersambung.....(ditulis Oleh Ghufron Eviyan Efendi/Sekretaris PMI Jember).