PMI Sisir Dampak Psikologis Gempa Nagekeo, Sekolah Hingga Permukiman Jadi Sasaran Asesmen

PMI Sisir Dampak Psikologis Gempa Nagekeo, Sekolah Hingga Permukiman Jadi Sasaran Asesmen

PMI JEMBER. NAGEKEO, 1 Oktober 2026 — Palang Merah Indonesia (PMI) bergerak mengidentifikasi dampak psikososial pascagempa di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Melalui Tim Psychosocial Support (PSS), PMI melakukan asesmen di lingkungan sekolah dan masyarakat untuk memetakan kondisi, kebutuhan, serta bentuk pendampingan yang diperlukan warga terdampak.

Pada Kamis (1/10/2026), asesmen dilakukan di dua lokasi. Kegiatan pertama berlangsung di SDK Gawalea, Kelurahan Ulupulu, Kecamatan Nangaroro, pada pagi hari. Selanjutnya, tim melakukan asesmen awal di RT 30, Kelurahan Danga, pada siang hari.

Asesmen menjadi langkah awal PMI sebelum menentukan bentuk layanan psikososial yang tepat bagi masyarakat terdampak.

Di SDK Gawalea, asesmen berlangsung pukul 08.15–10.00 WITA. Tim PSS berkomunikasi dengan kepala sekolah dan guru untuk menggali kondisi sekolah serta dampak gempa terhadap proses belajar mengajar dan kondisi psikologis siswa maupun tenaga pendidik.


Sebanyak lima orang dari unsur guru dan kepala sekolah menjadi narasumber dalam asesmen. Berdasarkan informasi pihak sekolah, calon penerima manfaat di lingkungan sekolah mencapai 99 orang, terdiri dari 13 orang guru, kepala sekolah dan petugas keamanan, serta 86 siswa.

Tim menggali informasi mengenai kondisi sekolah saat dan setelah gempa, bantuan yang telah diterima, keterlibatan berbagai pihak dalam penanganan dampak bencana, hingga kondisi siswa dan tenaga pendidik.

Tim juga melakukan observasi terhadap lingkungan sekolah dan aktivitas belajar mengajar yang saat ini berlangsung dalam kondisi darurat.

" Hasil asesmen menunjukkan, sekolah belum pernah mendapatkan layanan khusus terkait dukungan psikososial," tutur Elvana Kusdijanto, Tim PSS PMI Pusat dari PMI Kabupaten Jember.

 Sebelumnya, sekolah telah menerima sejumlah bantuan, antara lain sembako serta tenda dari BNPB dan alumni.

Sementara itu, kegiatan belajar mengajar di tenda darurat telah berlangsung hampir satu bulan. Kondisi tersebut dilakukan karena adanya kekhawatiran terhadap keamanan bangunan sekolah yang dilaporkan mengalami keretakan pada bagian sudut bangunan.

Dampak gempa juga dirasakan keluarga para siswa. Pihak sekolah menyampaikan bahwa sebagian besar siswa memiliki rumah yang mengalami keretakan. Bahkan, terdapat satu siswa yang rumahnya dilaporkan sudah tidak layak huni.

Dampak psikologis juga menjadi perhatian Tim PSS. Berdasarkan informasi dari pihak sekolah, sejumlah siswa masih merasakan takut, cemas, dan khawatir ketika terjadi gempa.

Selain itu, terdapat beberapa siswa yang belum kembali mengikuti kegiatan belajar di sekolah.

Temuan tersebut menjadi dasar rekomendasi bagi PMI untuk memberikan pendampingan psikososial lanjutan kepada warga sekolah, terutama siswa yang membutuhkan dukungan selama proses pemulihan.

Pendampingan dapat dilakukan melalui aktivitas yang sesuai dengan usia anak, seperti permainan terstruktur, psikoedukasi, kegiatan ekspresi kreatif, serta penguatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Koordinasi lintas bidang juga dapat dilakukan sesuai kebutuhan yang ditemukan di lapangan.

PMI Lanjutkan Asesmen ke Lingkungan Warga

Setelah dari SDK Gawalea, Tim PSS melanjutkan asesmen ke RT 30, Kelurahan Danga. Kegiatan berlangsung pukul 11.30–12.10 WITA dengan melibatkan ketua RT sebagai sumber informasi awal mengenai kondisi masyarakat pascagempa.

"Tim menggali informasi mengenai kondisi warga, kebutuhan masyarakat, serta berbagai kesulitan yang dihadapi setelah gempa," kata Elvana Kusdijanto, tim PSS PMI Pusat dari PMI Kabupaten Jember.

Meskipun asesmen awal dilakukan bersama satu perwakilan masyarakat, informasi yang diperoleh menjadi bahan penting untuk memahami kondisi warga di lingkungan tersebut dan menentukan kebutuhan pendampingan berikutnya.

Ketua RT memberikan respons positif dan membantu tim memperoleh gambaran awal mengenai kondisi masyarakat.

Hasil asesmen tersebut selanjutnya menjadi salah satu bahan pertimbangan PMI dalam menentukan bentuk dukungan psikososial yang sesuai dengan kebutuhan warga RT 30.

Bagi PMI, asesmen merupakan tahapan penting dalam memberikan dukungan psikososial. Tim tidak langsung menentukan bentuk intervensi, tetapi terlebih dahulu mempelajari kondisi dan kebutuhan masyarakat di masing-masing lokasi.

Aspek yang diperhatikan tidak hanya kondisi psikologis individu, tetapi juga lingkungan tempat masyarakat beraktivitas, keberlanjutan pendidikan anak, kondisi tempat tinggal, dukungan sosial, serta kebutuhan layanan lainnya.

Temuan lapangan kemudian menjadi dasar penyusunan kegiatan yang lebih tepat sasaran, mulai dari dukungan psikososial, psikoedukasi, aktivitas anak dan ekspresi kreatif hingga koordinasi dengan bidang pelayanan PMI lainnya.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat terdampak gempa menjalani proses pemulihan dengan dukungan yang sesuai. Perhatian khusus juga diberikan kepada kelompok yang membutuhkan dukungan lebih besar, termasuk anak-anak dan lansia.

Asesmen dilaksanakan melalui kolaborasi Tim PSS PMI Kabupaten Nagekeo dengan Tim PSS PMI Pusat. Tim PSS PMI Kabupaten Nagekeo yaitu Angelina Marici Ema dan Laurentia Brindrisa Mogi. Tim PSS PMI Pusat terdiri dari Elvana Kusdijanto  PMI Kabupaten Jember, Jawa Timur. Farah Putri A PMI Kota Jakarta Timur.

PMI akan terus melakukan pemantauan dan asesmen terhadap kebutuhan masyarakat terdampak gempa di Nagekeo. Dukungan psikososial akan diberikan berdasarkan hasil asesmen di masing-masing lokasi dengan mengedepankan prinsip keamanan, kenyamanan, partisipasi, serta penghormatan terhadap kondisi setiap penerima manfaat.

Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen PMI untuk memastikan penanganan pascabencana tidak hanya menyentuh kebutuhan fisik, tetapi juga memberikan ruang bagi pemulihan psikososial masyarakat yang terdampak. (*)