PMI JEMBER — Dampak kemarau panjang yang masih melanda wilayah Kabupaten Jember membuat krisis air bersih semakin meluas. Hingga saat ini, Selasa (6/9/2026) Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Jember telah mendistribusikan lebih dari 500.000 (setengah juta) liter air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan di empat kecamatan terdampak, yakni Pakusari, Sumbersari, Patrang, and Sukorambi.
Untuk mengimbangi tingginya permintaan, armada mobil tangki PMI Kabupaten Jember dikerahkan secara intensif melakukan pengiriman sebanyak dua kali dalam sehari ke berbagai titik sasaran. Beberapa wilayah yang menjadi fokus distribusi di antaranya Desa Sumberpinang (Kecamatan Pakusari) Kelurahan Antirogo (Kecamatan Sumbersari) Dusun Tegalwatu (Kelurahan/Kecamatan Patrang) Desa Jubung (Kecamatan Sukorambi).
Suprikto, warga Dusun Plinggian (khususnya wilayah RT
02 dan RW 03/07 Kelurahan Antirogo), mengungkapkan rasa syukur atas bantuan
tandon dan suplai air bersih yang rutin dikirimkan oleh PMI Jember setiap dua
hari sekali. Kendati demikian, ia mengakui bahwa jumlah warga yang mengantre
air bersih terus bertambah seiring menipisnya cadangan air sumur warga.
Suprikto juga berinisiatif mengingatkan warga sekitar—termasuk warga
perumahan—agar menggunakan air bantuan tersebut secara bijak.

"Kami ingatkan warga bahwa air bersih ini diutamakan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, jangan digunakan untuk mandi," ujar Suprikto menegaskan pentingnya prioritas penggunaan air.
Sekretaris PMI Kabupaten Jember, Ghufron Eviyan Efendi, bersama jajaran pengurus saat melakukan monitoring langsung ke Kelurahan Antirogo, menjelaskan bahwa perpanjangan musim kemarau tahun ini membuat kebutuhan air bersih melonjak tajam di berbagai wilayah. "Kemarau saat ini makin panjang. Sudah masuk bulan Oktober tetapi belum ada hujan, makanya warga harus lebih bijak menggunakan air bersih," kata Ghufron.
Mengingat keterbatasan armada mobil tangki yang dimiliki, Gufron menyatakan bahwa PMI Kabupaten Jember terus berkoordinasi erat dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember. Terlebih lagi, status wilayah saat ini telah ditetapkan sebagai tanggap darurat bencana kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dengan koordinasi lintas instansi di bawah komando
BPBD, penanganan krisis air bersih diharapkan dapat menjangkau lebih banyak
titik secara merata dan berkesinambungan hingga musim penghujan tiba. (*)
