Meningkatkan Kemampuan Masyarakat Menyikapi Bencana Banjir Bandang ( Belajar Dari Kabupaten Jember)

Meningkatkan Kemampuan Masyarakat Menyikapi Bencana Banjir Bandang ( Belajar Dari Kabupaten Jember)

Judul Buku       : Metodologi Mitigasi Banjir Bandang

Penulis              : Sandi Suwardi Hasan, M.Si

Penerbit            : Magnum Pustaka, Yogyakarta

Cetakan            : November, 2009

Tebal                 : 148 halaman

Peresensi         : Ghufron Eviyan Efendi

 

          Banjir bandang merupakan peristiwa banjir skala besar atau aliran debris yang disebabkan utamanya karena jebolnya bendungan alam. Banjir bandang yang terjadi biasanya membawa material sediment dalam volume yang besar dapat merusak benda apapun yang dilaluinya seperti rumah, infrastruktur, persawahan, DAM irigasi (penahan air) dan lain-lain. Peristiwa banjir bandang pada umumnya disebabkan oleh air sungai yang meluap ke lingkungan sekitarnya sebagai akibat kombinasi kemiringan lahan, curah hujan yang tinggi, penggundulan hutan, ditambah jenis tanah dan ketebalan solum

          Bencana banjir bandang akan menyedihkan dan sangat memprihatinkan. Yang harus dipikirkan bukan apa yang akan dilakukan setelah merasa sedih karena terkena bencana, melainkan sebelum bencana terjadi, mari kita coba pikirkan sekali lagi risiko bencana banjir bandang di keseluruhan wilayah, termasuk rumah kita sendiri dengan memastikan ada tidaknya risiko bencana banjir bandang di daerah tempat tinggal  anda  dengan menjadikan buku ini sebagai referensi.

          Kemudian, coba bicaralah mengenai bencana banjir bandang kepada keluarga serta tetangga anda. Hal ini akan menjadi langkah pertama untuk meningkatkan kemampuan pencegahan bencana di daerah tempat tinggal anda.

          Banyak pendapat bahwa awal tahun 2011 ini turunnya hujan terasa aneh! Faktanya, hujan yang sangat deras hingga dikatakan 50 mm bahkan 100 mm dalam 1 jamnya terjadi di mana-mana di seluruh Indonesia, dan jumlah total 1 kali hujan yang terus menerus turun melebihi 1000 mm jika dilihat dalam tinggi adalah hujan 1m.

          Jika turun hujan seperti ini, di daerah yang selama ini sudah terbiasa diguyur hujan deras pun akan timbul longsoran tebing yang akhirnya membentuk bendungan alam dan terjadilah bencana banjir bandang. Di daerah mana pun di wilayah Indonesia, banyak terdapat struktur tanah yang permukaannya curam dan rapuh sehingga rawan terjadi bencana tanah longsor akibat pergerakan tanah.  Oleh karena itu dilakukan tindakan penanganan oleh pemerintah daerah minimal untuk melindungi nyawa penduduk dari bencana banjir bandang. Namun demikian, pada kenyataannya setiap tahun masih banyak korban jiwa akibat bencana banjir bandang. Mengapa demikian? Ada beberapa alasan yang dapat diberikan. Terdapat contoh kasus di mana akhir-akhir ini tidak ada informasi hujan yang akurat karena hujan yang turun benar-benar bersifat hujan lokal. Juga terdapat contoh kasus di mana tidak ada instruksi maupun rekomendasi mengungsi dari pemerintah pada berbagai situasi, atau meskipun sudah dikeluarkan instruksi maupun rekomendasi, penduduk tidak mau mengungsi.

          Dari banyak alasan ini, dapat kita ketahui bahwa terjadi bencana banjir bandang yang mendatangkan kerugian bagi manusia akibat sistem untuk keamanan jiwa yang dilaksanakan saat ini tidak difungsikan dengan baik. Berangkat dari hal ini, dilakukanlah studi secara teknis mengenai apa yang diperlukan minimal untuk melindungi nyawa manusia dari bencana banjir bandang, dan sebagai hasilnya telah dicapai kesimpulan bahwa dalam sistem keamanan yang saat ini dilaksanakan oleh negara, pemerintahan prefektur dan kota serta selanjutnya dilaksanakan oleh pemerintahan desa, kecamatan, dan kelurahan.

          Jadi, dianggap perlu menampilkan dalam bentuk “Check List” yang mempermudah orang-orang yang tinggal di wilayah yang rawan longsor dan banjir bandang mengetahui kondisi daerahnya sendiri, dapat mendeteksi kapan dan dengan informasi yang seperti apa bakal terjadi longsor, serta dapat mengetahui kapan sebaiknya mengungsi untuk menghindari bahaya.

          Konkritnya, pembuatan manual evakuasi sukarela yang lebih sederhana dinilai perlu sebagai sebuah langkah mitigasi agar setelah membacanya dalam kondisi normal, orang dapat segera melakukan tindakan evakuasi sambil melihat manual tersebut jika kondisi mengharuskan dia untuk mengungsi.

          Tentu saja, evakuasi tidak dapat dilakukan dengan sempurna hanya mengandalkan buku ini. Sebagai contoh, dalam hal evakuasi tepat sesuai check list, maka saat penduduk suatu daerah menyerukan, “Situasi berbahaya! Ayo mengungsi!”, maka mekanisme untuk mengungsikan (mengevakuasi) orang-orang tersebut adalah hal yang penting. Dan yang menjadi prasyaratnya adalah terlebih dahulu menyurvei tempat evakuasi yang aman, sehingga saat harus evakuasi dapat menuju tempat tersebut dengan aman. Di samping itu, bencana banjir bandang bukanlah “sesuatu yang selalu terjadi jika terdapat persyaratan tertentu, misalnya jumlah curah hujan sekian mm”. Terdapat juga kasus tidak terjadi apa-apa meskipun telah mengungsi. Meski demikian, kesadaran untuk mengutamakan mengungsi demi melindungi keselamatan diri sendiri serta keluarga juga hal penting.

          Konsep dasar dari menejemen mitigasi adalah menjadikannya teknik berpikir dengan menggabungkan informasi setempat yang pertama-tama dapat dicek oleh diri sendiri sebagai individu (cara turun hujan, gejala yang menjadi pertandanya, dsb) dengan informasi penting dari pemerintah (misal informasi peringatan bencana longsor dan banjir bandang). Singkatnya, karena buku  yang ditulis oleh Sandi Suwardi Hasan ini merupakan metode menyelamatkan diri sendiri untuk mempertimbangkan tingkat bahaya bencana banjir bandang dengan menkombinasikan beberapa informasi, maka kami sangat berharap isinya dapat dipahami dan dimanfaatkan oleh semua pihak.

          Selanjutnya diharapkan informasi pertimbangan pribadi sedapat mungkin dapat digunakan sebagai informasi pencegahan bencana lokal. Secara konkrit, diharapkan dapat terbentuk sistem di mana jika telah mencapai tingkat dapat merasakan bahaya dengan check list, setiap individu memberitahukan kepada pimpinan wilayah setempat (pimpinan tim pencegahan bencana), untuk kemudian dilakukan penjagaan keamanan terhadap bencana banjir bandang sebagai satu wilayah. Secara singkat, diharapkan adanya pembentukan sistem untuk meningkatkan kemampuan wilayah dalam pencegahan bencana. Yang dimaksud wilayah di sini adalah perkampungan di dalam salah satu area aliran arus yang rawan aliran debris yang potensial terkena aliran serta tertimbun sedimen.  Akan mudah diketahui jika perkampungan tersebut dianggap sebagai perkampungan di dalam area waspada bencana banjir bandang (disebut juga : Zona Kuning). Buku ini memuat tentang apa yang dimaksud dengan bencana banjir bandang serta informasi terbaru untuk mengetahui hal-hal mengenai area berbahaya tersebut sebagai referensi bagi siapa saja yang ingin mengetahui lebih detail mengenai bencana banjir bandang.

          Buku ini ditujukan untuk dibaca oleh semua masyarakat maupun pemerintah, terutama penduduk yang berhubungan dengan pencegahan bencana di wilayah. Sekali waktu pada saat hujan deras, dengan memastikan sendiri pentingnya evakuasi dengan melakukan latihan di awal berdasarkan check list, maka pada saatnya harus mempraktekkan, “Nyawa sendiri dapat dilindungi oleh diri sendiri”. Juga dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan pencegahan bencana wilayah setempat. Tentu saja, buku ini juga diharapkan dijadikan referensi oleh pemerintahan pusat, pemerintahan provinsi, maupun pemerintahan desa, kecamatan, dan kelurahan yang bertanggung jawab terhadap pencegahan bencana dalam mengeluarkan instruksi maupun rekomendasi evakuasi sebagai tanggung jawab pemerintahan serta bentuk ideal evakuasi sukarela dilihat dari sisi pemerintah.

          Buku ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai manual oleh orang banyak dan menjadi salah satu senjata untuk melindungi nyawa manusia dari bencana banjir bandang  dan tanah longsor. Buku ini menguraikan tentang bencana banjir bandang yang diakibatkan hujan deras. Selain itu, di Indonesia pun sering terjadi bencana banjir bandang yang diakibatkan penggundulan hutan serta pembukaan lahan yang berakibat mengurangi daya serap tanah. Bencana banjir bandang yang ini pun dapat ditangani dengan mengetahui karakteristik bencana banjir bandang dari buku ini untuk melindungi nyawa manusia. Marilah kita berpikir bersama-sama mengenai bencana banjir bandang dan tanah longsor, juga demi melindungi nyawa keluarga dari bencana banjir bandang dan tanah longsor yang sering terjadi.

Akhirnya, semoga buku ini dapat bermanfaat sebagai bahan perencanaan mitigasi banjir bandang yang sering terjadi akhir-akhir ini dibeberapa daerah di Indonesia seperti banjir bandang Jember, Mojokerto, Situbondo, Wasior dan daerah lainnya yang kerap terjadi.